LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo – Pengajian rutin yang diselenggaran Musholla Nurul Falah Jemundo, Taman, Sidoarjo kembali diikuti jamaah shalat Maghrib. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian rutin yang diasuh oleh Ust. Moh. Ibnu Athoillah, pada Selasa (15/9/2026) malam.
Dalam kajian rutin tersebut, Yai Atho’ panggilan akrabnya membahas materi fikih tentang hukum mencium orang yang telah meninggal dunia.
Masalah ini karena kerap memicu keraguan di kalangan masyarakat awam saat hendak memberikan penghormatan terakhir kepada keluarga yang wafat.
Yai Atho’ menegaskan bahwa mencium jenazah hukumnya adalah boleh atau mubah , bahkan bisa bernilai sunnah sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan terakhir.
Guna memperkuat penjelasannya, beliau menyitir sebuah hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari mengenai tindakan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA saat Rasulullah SAW wafat.
Dalam riwayat tersebut dikisahkan, Abu Bakar masuk ke kamar Rasulullah, membuka kain yang menutupi wajah suci beliau, lalu membungkuk dan mengecup kening Rasulullah SAW seraya menangis penuh cinta.
“Mencium orang yang meninggal adalah bentuk penghormatan terakhir yang diajarkan dalam Islam. Rasulullah SAW sendiri pernah mencium putrinya saat wafat. Begitu pula sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mencium kening Rasulullah saat beliau wafat ,” ujar Yai Atho’ di hadapan para jamaah.
Beliau menambahkan bahwa ekspresi cinta dengan mencium jenazah adalah hal yang sangat manusiawi dan diperbolehkan, asalkan pihak keluarga tidak disertai dengan ratapan histeris (niyahah) yang dilarang agama, terang pengasuh Majlis Taman Surga(MTS) Sidoarjo.
Lebih lanjut Ia menjabarkan pandangan para ulama yang merujuk pada Kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya ulama besar mazhab Syafi’i, Imam An-Nawawi. Di dalam kitab tersebut ditegaskan bahwa diperbolehkan bagi keluarga maupun sahabat dekat untuk mencium wajah atau kening jenazah berdasarkan ketetapan hadis-hadis sahih.
Bahkan, para ulama juga memperbolehkan orang lain untuk mencium jenazah, dengan catatan jenazah tersebut semasa hidupnya dikenal sebagai orang saleh, ulama, atau orang yang berjasa bagi umat.(Pr/Ss)




