LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo— Majlis Taman Surga Sidoarjo menggelar kajian mendalam bersama pengasuh majelis, Ust. Moh. Ibnu Athoillah. Kajian tersebut secara khusus mengupas fenomena gerhana matahari dan bulan sebagai bentuk edukasi akidah guna mengikis mitos yang masih berkembang di tengah masyarakat.
Utd yang biasa disebut Yai Atho’ menegaskan bahwa proses terjadinya gerhana matahari maupun bulan merupakan salah satu tanda nyata dari kemahakuasaan Allah SWT.
Menurutnya, fenomena alam ini murni bagian dari ketetapan-Nya dan sama sekali tidak berkaitan dengan urusan mistis, nasib buruk, atau pertanda kematian seseorang.
Dalam tausiyahnya, Ust. Ibnu Athoillah meluruskan anggapan keliru warisan zaman jahiliah yang sering mengaitkan gerhana dengan wafatnya seorang tokoh besar sebagai bentuk penghormatan alam.
Mitos serupa bahkan pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia bersamaan dengan peristiwa gerhana.
“Islam secara tegas membantah keyakinan tersebut. Rasulullah SAW langsung meluruskannya agar umat tidak terjebak dalam kesyirikan,” ujar Ust. Ibnu Athoillah. Beliau kemudian mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang artinya,
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang…”
Alih-alih menyikapi gerhana dengan ketakutan yang tidak berdasar, Islam telah memberikan panduan ibadah yang jelas. Umat Muslim sangat dianjurkan (disunnahkan) untuk mendirikan Shalat Gerhana—yang dikenal dengan istilah Shalat Kusuf untuk matahari dan Khusuf untuk bulan.
Selain melaksanakan shalat, masyarakat juga diimbau untuk memperbanyak amalan sosial dan spiritual. Berdasarkan hadis Nabi SAW, amalan utama yang sangat dianjurkan saat fenomena ini berlangsung adalah memperbanyak istighfar, berzikir, memohon perlindungan dari azab kubur, serta mengulurkan tangan untuk bersedekah kepada yang membutuhkan.
Secara teknis pelaksanaan Shalat Pengasuh Majlis Taman Surga ini menjelaskan bahwa shalat gerhana memiliki struktur yang sangat berbeda dari shalat sunnah pada umumnya.
Shalat ini terdiri dari 2 rakaat, namun memiliki jumlah ruku’ yang lebih banyak dalam setiap rakaatnya.
Berdasarkan tuntunan fikih, terdapat beberapa pandangan ulama mengenai jumlah ruku’ tersebut.
Mazhab Syafii dan Mayoritas Ulama, Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat dengan total 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud (2 ruku’ di setiap rakaat). Pelaksanaan shalat ini kemudian diikuti dengan penyampaian khutbah oleh imam setelah shalat selesai.
Mazhab Lain: Terdapat variasi riwayat lain dalam mazhab fikih yang menyebutkan bilangan ruku’ yang berbeda-beda, mulai dari 4, 6, 8, hingga 10 kali ruku’ dalam dua rakaat.
Melalui kajian ini, Majlis Taman Surga Sidoarjo berharap umat Islam dapat menyikapi setiap fenomena astronomi dengan peningkatan iman dan ketakwaan, serta senantiasa bersandar pada syariat Islam yang murni.(pr/aba)





