LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo— Kunci utama dalam meningkatkan mutu pendidikan bukan hanya terletak pada input siswa atau kemegahan fasilitas sekolah, melainkan pada kualitas proses pembelajaran yang digerakkan oleh guru dan kepala sekolah visioner.
Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sidoarjo Dr. Ng. Tirto Adi, M.Pd saat menjadi Keynote Speaker pada Seminar Pendidikan yang mengambil tema ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua: Antara Tantangan dan Harapan’ yang diselenggarakan oleh GBL (Gerakan Budaya Literasi) Sidoarjo, pada (21/5/2026) di Sun Hotel Sidoarjo.
Dalam pemaparannya, Ia menjelaskan bahwa saat ini masih ada ketimpangan di beberapa kabupaten/kota, termasuk Sidoarjo, terkait sekolah unggul yang hanya mengandalkan raw input (seleksi siswa masuk) maupun keunggulan sarana fasilitas.

Lanjutnya, ada beberapa sekolah yang sarana fasilitasnya luar biasa, bahkan ada yang punya kolam renang, tempat pacuan kuda, hingga laboratorium yang luar biasa. “Tapi ingat, sekolah unggul tipe pertama (input) dan tipe kedua (fasilitas) itu belum jaminan untuk bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas,” terangnya.
Pak Tirto_sapaan akrabnya, lebih menekankan betapa pentingnya menciptakan sekolah unggul tipe ketiga, yaitu unggul dalam hal proses. Ia mengutip filosofi Gigo (Garbage In, Gold Out).
“Masukannya biasa-biasa saja, sarana fasilitasnya biasa-biasa saja, tapi dipandegani (dipimpin) oleh guru-guru yang luar biasa, hasilnya menjadikan murid lulusan yang luar biasa. Karena itu, kata kuncinya adalah Guru,” tuturnya.
Menyitir nasihat dari pakar pendidikan Andy Hargreaves, ia menambahkan ”The power to change education for better or worse is and always has been in the hand of teacher.” “Kurikulum boleh berganti dan menteri bisa berubah setiap rezim, namun kunci utama untuk menciptakan pendidikan yang bermutu tetap ditentukan oleh guru,” tegasnya.
Jika guru adalah kunci utama, maka kepala sekolah adalah kunci pertama sebagai the key person. Kepala sekolah diibaratkan sebagai pemegang kunci pintu yang menentukan arah perubahan.
“Kita tidak bisa masuk dalam ruangan ini kalau pemegang kunci pintu tidak membukanya. Karena itu, kepala sekolah harus orang-orang yang visioner; wawasannya luas, ilmunya dalam, dan berpikirnya tidak hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan,” katanya.
Mengingat adanya masa periodisasi jabatan, kepala sekolah dituntut memiliki perencanaan yang matang untuk membawa sekolahnya ke arah yang lebih baik dalam masa jabatan 4 tahun tersebut. Pemikiran, gagasan, dan visi dari kepala sekolah inilah yang nantinya akan mewarnai para guru di sekolah.
Di akhir pemaparannya, ia menyerukan pentingnya memperkuat literasi baca-tulis di kalangan kepala sekolah dan guru. Budaya literasi yang kuat sangat diperlukan agar setiap kebijakan atau regulasi baru dari pemerintah pusat dapat dikaji, didiskusikan, dan diimplementasikan dengan tepat.
“Saya berkeyakinan, kalau budaya untuk membaca dan menulis itu sudah melekat kuat pada diri kepala sekolah dan guru, tidak ada pendidikan yang dalam implementasinya dilakukan dengan cara malpraktik,” pungkas Tirto Adi yang disambut Applause undangan.
Sementara itu salah satu panitia, Ketua Penyelenggara M. Wahyudi, S.Pd menjelaskan kalau kegiatan ini memiliki dua tujuan utama yang sangat krusial bagi keberlangsungan dunia pendidikan di Sidoarjo.
“Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah, pertama, untuk meningkatkan kompetensi para pendidik, terutama kepala sekolah dan guru. Tujuan yang kedua adalah untuk mengatasi berbagai permasalahan-permasalahan pendidikan yang ada di Sidoarjo,” jelasnya.
Peserta mulai guru PAUD/Himpaudi, IGTKI, TK, SD, IGAB, SD Negeri dan Swata, SMP Negeri dan Swasta. “Total keseluruhan peserta yang ikut adalah sekitar 766 orang. Ini hampir meliputi semuanya. Intinya yang berada di bawah naungan Dinas Dikbud Sidoarjo,” jelas Wahyudi.
Untuk mencapai target peningkatan kompetensi yang maksimal, acara ini menghadirkan jajaran pemateri yang kompeten di bidangnya. Keynote speaker langsung dari Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo, narasumber utama Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Martadi, M.Si. dilanjut motivator nasional Ustad Hadi Fajaray.(mad/aba)




