LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo— Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memperkuat fokus program pendidikan daerah yang selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Penguatan ini tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Pemkab Sidoarjo serta Rencana Kerja Dinas Pendidikan, termasuk Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).
Salah satu fokus utama penguatan tersebut adalah peningkatan literasi dan numerasi. Dalam bidang literasi, aspek digitalisasi atau literasi digital menjadi hal yang tidak terpisahkan dan saling berkesinambungan.
Langkah ini juga mendukung visi Kabupaten Sidoarjo agar masyarakatnya memiliki wawasan global yang lekat dengan era digital.
Itulah penegasan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo Dr. Neti Lastiningsih, M.Pd saat membuka acara Bimtek Daerah ‘Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SD Tahap 8’ pada (12/10/2026) sore di Hotel Aston Sidoarjo.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wahyu Malik, S.Pd., M.A. selaku perwakilan dari Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen, sebagai penyelenggara.
Juga para pemarteri Didik Hartanto, S.T., S.Pd., M.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Negeri Punggol, Pacitan. Heri Supriyanto selaku dosen dari Universitas Negeri Malang. Rizkia, S.Pd. selaku Kepala SD Negeri Moncek Timur, Sumenep, dan Dr. Lilik Sulistyowati, M.Pd. selaku Kepala Bidang Mutu Pendidikan, yang diikuti sekitar 50 guru-guru SD negeri/swasta terpilih se Kabupaten Sidoarjo.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Neti Lastiningsih, bahwa era pendidikan modern saat ini, ekosistem pendidikan tidak lagi hanya ditopang oleh tiga pilar utama, yakni orang tua/keluarga, sekolah, dan masyarakat, melainkan bertambah satu pilar penting keempat, yaitu media.
“Keempat pilar ini saling mendukung dan memperkuat, dengan para guru sebagai ujung tombaknya di garda terdepan,” jelasnya.
Namun, ditekankan pula bahwa peningkatan kapasitas guru dan siswa di era digital tidak boleh hanya berfokus pada penguasaan keterampilan (digital skill) semata, tetapi juga harus diimbangi dengan etika digital (digital ethics).
Hal-hal sederhana dalam etika bermedia sosial sering kali terabaikan, seperti bijak dalam mengirim pesan teks, memahami budaya lokal bangsa Indonesia, serta menjaga keamanan berinternet (digital safety).
“Peran guru kelas sangat krusial dalam mendampingi peserta didik agar bijak menggunakan teknologi, baik secara langsung maupun tidak langsung, guna menghindari dampak buruk dari penyalahgunaan media digital yang kerap terjadi di tengah masyarakat saat ini,” papar Neti Lastiningsih.
Sebelumya Wahyu Malik juga menjelaskan kalau kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman guru terhadap kebijakan, mengembangkan keterampilan, serta memberikan pengalaman praktis terkait penerapan teknologi dalam pembelajaran sehari-hari.
Dalam arahannya, ditekankan bahwa pemanfaatan teknologi seperti Papan Interaktif Digital (PID) dan perangkat pendukung lainnya harus difokuskan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, kreatif, dan berpusat pada murid, bukan sekadar berorientasi pada kemampuan mengoperasikan perangkat.
“Meski terdapat tantangan berupa keragaman kesiapan daerah, kompetensi pendidik, dukungan kepemimpinan satuan pendidikan, ketersediaan sarana prasarana, hingga akses internet, program ini diharapkan dapat menjembatani kebutuhan tersebut secara realistis di lapangan,” harap Wahyu Malik.
“Semoga para guru bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, aktif berdiskusi, serta membagikan pengalaman dan praktik baik kepada rekan sejawat di satuan pendidikan masing-masing, guna mewujudkan generasi anak-anak Indonesia yang cerdas, kreatif, dan gemilang,” doa Kabid Mutu Pendidikan Lilik Sulisytowati.(mad/aba)




