LIPUTANINSPIRASI, Surabaya – Perpaduan antara warisan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU), pengalaman panjang dalam organisasi, dan rekam jejak kepemimpinan di bidang kesehatan serta pendidikan menjadi modal yang melekat pada sosok dr. Hidayatullah, Sp.N. Putra almarhum KH.Munir Hasyim Latief, ulama kharismatik sekaligus komandan Laskar Hizbullah dan pendiri Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) Sepanjang itu, dinilai memiliki bekal untuk membawa NU Sidoarjo lebih mandiri, profesional, dan adaptif menghadapi tantangan zaman.
Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) XXII NU Sidoarjo, nama dr. Hidayatullah,Sp.N. menjadi salah satu figur yang diperbincangkan dalam dinamika kepemimpinan Tanfidziyah PCNU Sidoarjo periode 2026–2031. Sejumlah tokoh senior dan kader muda NU menilai beliau telah selesai dengan dirinya sendiri dan mempunyai pengalaman organisasi, kapasitas manajerial, serta kedekatannya dengan tradisi perjuangan Nahdliyin menjadi pertimbangan penting bagi kepemimpinan NU ke depan.
Ia dipandang sebagai sosok yang telah memiliki pijakan profesional dan pengalaman pengabdian, sehingga dapat memusatkan perhatian pada penguatan organisasi dan kemaslahatan umat. Pandangan tersebut merujuk pada perjalanan panjangnya di lingkungan NU, dunia kesehatan, pendidikan, dan pelayanan sosial.
Latar belakang keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Sebagai putra KH. M. Munir Hasyim Latief, dr. Hidayatullah, Sp.N. mewarisi kedekatan historis dengan perjuangan keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, meneruskan warisan perjuangan tidak cukup hanya dengan menjaga nama besar keluarga. Nilai-nilai perjuangan itu perlu diwujudkan dalam program yang menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi warga Nahdliyin.
Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, tantangan ekonomi, dan persoalan lingkungan, NU dituntut untuk terus menjaga tradisi sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaannya. Perpaduan antara nilai keulamaan, profesionalisme pengelolaan, kemandirian ekonomi, dan kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam merumuskan arah kepemimpinan NU Sidoarjo lima tahun mendatang.
Mengusung NU Mandiri, Kuat, dan Berdaya*
Menjelang Konfercab XXII NU Sidoarjo, dr. Hidayatullah, Sp.N. mulai memperkenalkan gagasan yang disiapkannya untuk khidmah PCNU Sidoarjo periode 2026–2031.
Gagasan tersebut dirangkum dalam visi:
“Terwujudnya NU yang mandiri, kuat, berdaya, dan berkhidmah untuk kemaslahatan umat melalui Penguatan Ekonomi, Pendidikan, Kelembagaan, Kesehatan dan Kemandirian Warga.”
Visi tersebut menempatkan NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan yang menjaga tradisi dan menjalankan dakwah, melainkan juga sebagai kekuatan sosial yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Kemandirian organisasi, penguatan sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan, dan pemberdayaan ekonomi warga menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Modernisasi NU tidak dimaknai sebagai upaya meninggalkan tradisi, tetapi memperkuat cara organisasi bekerja agar semakin tertata, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan umat.
Ada enam agenda utama yang menjadi bagian dari gagasan tersebut.
Pertama, penguatan ekonomi umat. Pengembangan usaha, kewirausahaan, koperasi, dan jejaring ekonomi warga NU diarahkan untuk memperluas peluang usaha sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Potensi jaringan pesantren, lembaga pendidikan, dan komunitas Nahdliyin dapat menjadi modal untuk membangun ekosistem ekonomi yang saling mendukung.
Kedua, kemandirian organisasi. Penguatan pembiayaan, dan pengembangan aset menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih mandiri. Kemandirian tersebut perlu berjalan seiring dengan komitmen menjaga khittah NU, memperkuat akuntabilitas, dan memastikan sumber daya organisasi digunakan untuk kepentingan umat.
Ketiga, penguatan pendidikan dan kaderisasi. Pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia Nahdliyin. Penguatan pendidikan tidak hanya menyangkut keberlanjutan tradisi keilmuan, tetapi juga kesiapan generasi muda menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persaingan dunia kerja.
Keempat, kelembagaan yang profesional. Tata kelola yang tertib, transparan, dan adaptif dibutuhkan agar program organisasi dapat dijalankan secara efektif dan berkelanjutan. Profesionalisme tersebut harus tetap berpijak pada karakter keulamaan, nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta tradisi musyawarah yang menjadi identitas NU.
Kelima, penguatan layanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang Islami, profesional, dan berpihak kepada masyarakat kurang mampu menjadi bagian dari khidmah yang dapat dirasakan langsung oleh warga. Penguatan jejaring layanan, kolaborasi antarlembaga, dan tata kelola fasilitas kesehatan dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pelayanan bagi masyarakat.
Keenam, penguatan khidmah keumatan. NU diharapkan hadir dalam penyelesaian berbagai persoalan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Khidmah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui program yang berkelanjutan dan menjawab kebutuhan riil warga.
Dalam pelaksanaannya, keenam agenda tersebut dapat saling terhubung. Pendidikan yang kuat mendukung peningkatan kualitas kader, ekonomi yang mandiri memperkuat daya tahan masyarakat, sedangkan kelembagaan yang profesional membantu memastikan pelayanan kesehatan dan program sosial berjalan secara berkelanjutan.
Rekam Jejak Organisasi dan Kepemimpinan*
Kapasitas dr. Hidayatullah, Sp.N. tidak hanya bertumpu pada gagasan yang ditawarkan. Riwayat organisasinya menunjukkan keterlibatan panjang dalam berbagai struktur dan kegiatan yang berkaitan dengan NU.
Ia pernah menjabat Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Sidoarjo selama dua periode, 2008–2016. Pada tingkat wilayah, ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Lembaga Pelayanan Kesehatan NU Jawa Timur dan Bendahara Lembaga Perguruan Tinggi NU Jawa Timur.
Pengalaman tersebut berlanjut ketika ia dipercaya memimpin Pengurus Wilayah Lembaga Kesehatan NU (LKNU) Jawa Timur selama dua periode, 2013–2023. Pada periode berikutnya, ia tercatat sebagai penasihat Lembaga Kesehatan PWNU Jawa Timur untuk masa khidmah 2024–2029.
Dalam penanganan pandemi COVID-19, dr. Hidayatullah,Sp.N. juga tercatat sebagai Ketua Satgas COVID-19 NU Jawa Timur. Pengalaman tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam bidang pelayanan kesehatan yang membutuhkan koordinasi lintas lembaga dan kerja bersama berbagai unsur masyarakat.
Di luar struktur NU, ia memiliki pengalaman organisasi di bidang kesehatan dan profesi, antara lain sebagai pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Cabang Surabaya, pengurus Asosiasi Rumah Sakit NU (ARSINU), serta pengurus Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jawa Timur.
Rentang pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai keterlibatannya dalam organisasi profesi, pengembangan layanan kesehatan, dan pengelolaan kelembagaan.
Dari Rumah Sakit hingga Perguruan Tinggi*
Sebagai dokter spesialis saraf lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Hidayatullah juga memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan lembaga pelayanan kesehatan dan pendidikan.
Ia menjabat Direktur Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo pada 2013–2022. Selama periode kepemimpinannya, rumah sakit tersebut mencatat sejumlah penghargaan, di antaranya Zero Accident Award, penghargaan PERSI Award untuk program tanggung jawab sosial perusahaan pada 2018, serta penghargaan sebagai rumah sakit NU terbaik se-Jawa Timur pada 2017 dan 2018.
Pada 2019, RSI Siti Hajar juga tercatat sebagai salah satu nominator sepuluh rumah sakit swasta terbaik dengan konsep Green Hospital dari Kementerian Kesehatan RI. Rekam jejak tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan layanan kesehatan dapat dikaitkan dengan perhatian terhadap keselamatan kerja, tanggung jawab sosial, dan pengelolaan lingkungan.
Pengalamannya di bidang pendidikan juga tidak kalah penting. Sejak 2023, dr. Hidayatullah menjabat Rektor Universitas Maarif Hasyim Latief (UMAHA) Sidoarjo. Ia juga tercatat sebagai salah satu pendiri Fakultas Kedokteran UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kiprah dr. Hidayatullah, Sp.N. yang saat ini juga menahkodai sebagai ketua Korwil Jatim KOHKARSSI merupakan perkumpulan yang bergerak dalam bidang konsultasi hukum kesehatan dan advokasi rumah sakit periode 2026-2031.
Kombinasi pengalaman di bidang kesehatan dan pendidikan tersebut menjadi salah satu aspek yang relevan dengan gagasan penguatan kelembagaan NU. Pengalaman mengelola organisasi dengan karakter berbeda dapat menjadi modal untuk membangun sistem kerja yang lebih terencana, memperluas jejaring kerja sama, dan mengembangkan program yang berorientasi pada hasil.
Tentu saja, pengelolaan NU memiliki karakter tersendiri. Kepemimpinan organisasi ini tidak cukup mengandalkan kemampuan manajerial, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap tradisi keulamaan, mekanisme permusyawaratan, hubungan antarlembaga, dan kemampuan merawat persatuan warga Nahdliyin.
Karena itu, rekam jejak profesional perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membangun kebersamaan dan menggerakkan potensi organisasi secara kolektif.
Kepedulian Lingkungan sebagai Bagian dari Khidmah*
Salah satu aspek yang menarik dari rekam jejak dr. Hidayatullah, Sp.N. adalah keterlibatannya dalam inisiatif yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.
Dalam kepeduliaannya terhadap pelestarian lingkunhan tercatat program Green Wakaf yang dikembangkan pada 2023. Program tersebut diarahkan pada pelestarian lingkungan, keberlanjutan kehidupan masyarakat, serta konservasi sumber daya hutan melalui penanaman pohon di hutan wakaf.
Inisiatif ini memperlihatkan adanya ruang untuk menghubungkan pengabdian keagamaan dengan tanggung jawab ekologis. Wakaf tidak hanya dipahami sebagai instrumen sosial untuk mendukung kepentingan umat, tetapi juga dapat dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat.
Kepedulian terhadap lingkungan menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi persoalan sampah, pencemaran, berkurangnya ruang hijau, dan berbagai dampak perubahan iklim. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan organisasi sosial, lembaga pendidikan, komunitas keagamaan, dan masyarakat secara luas.
Dalam konteks NU Sidoarjo, gagasan kepedulian lingkungan berpotensi dikembangkan melalui gerakan penghijauan, edukasi lingkungan di pesantren dan sekolah, pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta pemanfaatan aset sosial-keagamaan untuk kegiatan yang mendukung kelestarian alam.
Langkah tersebut juga dapat memperkuat hubungan antara nilai keagamaan dan tanggung jawab sosial. Merawat lingkungan merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kehidupan, melindungi kesehatan masyarakat, dan mewariskan ruang hidup yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Apabila diintegrasikan secara terencana ke dalam agenda organisasi, kepedulian lingkungan dapat menjadi salah satu dimensi khidmah NU yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Dengan demikian, gagasan NU modern tidak hanya berkaitan dengan profesionalisme tata kelola dan pemanfaatan teknologi, tetapi juga kemampuan organisasi membaca tantangan ekologis dan mengambil peran dalam mencari solusinya.
Inovasi dan Penghargaan Menjadi Catatan Rekam Jejak*
Selain pengalaman organisasi dan pengelolaan lembaga, sejumlah inovasi dan penghargaan turut melengkapi perjalanan profesional dr. Hidayatullah, Sp.N.
Ia tercatat sebagai inisiator pembentukan Asosiasi Rumah Sakit NU (ARSINU) pada 2015, sebuah upaya membangun wadah yang menghubungkan rumah sakit di lingkungan NU. Dalam bidang pelayanan kesehatan, ia juga terlibat dalam pengembangan proyek percontohan nasional sistem antrean daring berbasis teknologi informasi untuk pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional pada 2021.
Pada masa pandemi COVID-19, keterlibatannya dalam Satgas COVID-19 NU Jawa Timur menjadi bagian dari rekam jejak pengabdian kesehatan masyarakat. CV-nya juga mencatat keterlibatan dalam program vaksinasi massal di sekolah, kampus, dan pesantren, serta program sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang dimulai pada 2024.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan luasnya bidang pengabdian yang pernah dijalani, mulai dari pengembangan organisasi, pelayanan kesehatan, pemanfaatan teknologi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pengalaman itu dapat menjadi modal untuk merancang program NU yang tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling mendukung antara pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan penguatan kapasitas warga.
Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Zaman*
NU Sidoarjo memiliki jaringan sosial yang luas melalui pesantren, lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, badan otonom, serta berbagai komunitas yang tumbuh di tengah masyarakat. Potensi tersebut merupakan kekuatan besar, tetapi juga membutuhkan pengelolaan yang mampu menyatukan beragam sumber daya dan kepentingan.
Kemandirian ekonomi, penguatan pendidikan, profesionalisme kelembagaan, pelayanan kesehatan, dan kepedulian lingkungan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Seluruhnya membutuhkan perencanaan yang baik, pembagian peran yang jelas, kolaborasi antarlembaga, serta mekanisme evaluasi agar program benar-benar memberikan manfaat.
Modernisasi NU juga tidak semata-mata diukur dari penggunaan teknologi atau perubahan administrasi. Modernisasi harus tercermin dalam meningkatnya kualitas pelayanan, terbukanya ruang partisipasi kader, transparansi pengelolaan organisasi, dan kemampuan merespons persoalan masyarakat.
Di sinilah perpaduan antara warisan perjuangan keluarga, pengalaman organisasi NU, rekam jejak profesional, dan gagasan pemberdayaan menjadi aspek yang menarik dari sosok dr. Hidayatullah, Sp.N.
Muara seluruh agenda tersebut adalah mewujudkan NU yang kuat secara organisasi, mandiri dalam sumber daya, maju dalam pendidikan, berdaya dalam ekonomi, sehat warganya, serta memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Apakah gagasan tersebut akan memperoleh kepercayaan dalam kalangan warga NU. Namun, gagasan tentang kemandirian, profesionalisme, pelayanan umat, dan kepedulian lingkungan menghadirkan sejumlah isu penting untuk dipertimbangkan dalam menentukan arah kepemimpinan NU Sidoarjo periode 2026–2031.
Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan NU bukan semata-mata siapa yang menduduki jabatan, melainkan sejauh mana kepemimpinan itu mampu merawat warisan perjuangan, memperkuat persatuan, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh warga Nahdliyin serta masyarakat luas.(Gh/aba)




