Karya : Mutiara Khay Lillah Az-zahra*
Delapan puluh tahun lebih…
Indonesia telah merdeka.
Kita mengenang tanggal 17 Agustus dengan upacara, lomba, dan kibaran merah putih. Kita menyebut nama para pahlawan dengan penuh kebanggaan.
Namun…
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri?
Apakah perjuangan mereka benar-benar telah selesai?
Dahulu, musuh datang membawa senjata. Mereka merampas tanah, kebebasan, dan harga diri bangsa.
Hari ini…
Musuh itu tak selalu terlihat.
Ia hadir dalam bentuk kebencian yang memecah persatuan.
Dalam keserakahan yang merugikan
Dalam berita bohong yang membuat kita saling bermusuhan.
Dalam sikap tidak peduli terhadap sesama.
Dan dalam rasa malas yang membuat kita enggan belajar dan berkembang.
Bayangkan jika para pahlawan melihat Indonesia hari ini.
Mereka mungkin bangga melihat negeri yang telah berdiri tegak.
Tetapi…
Mereka juga mungkin bertanya,
“Apakah ini Indonesia yang kami perjuangkan?”
Indonesia yang saling menghina karena perbedaan?
Indonesia yang lebih mudah menyebarkan fitnah daripada mencari kebenaran?
Indonesia yang masih membiarkan ketidakjujuran menjadi hal biasa?
Bukankah kemerdekaan seharusnya membuat kita menjadi bangsa yang lebih baik?
Perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat bambu runcing.
Perjuangan hari ini adalah melawan kebodohan dengan ilmu.
Melawan kebohongan dengan kejujuran.
Melawan perpecahan dengan persatuan.
Melawan rasa egois dengan kepedulian.
Setiap pelajar yang belajar dengan sungguh-sungguh sedang berjuang.
Setiap guru yang mengajar dengan tulus sedang berjuang.
Setiap tenaga kesehatan yang merawat pasien sedang berjuang.
Setiap orang yang bekerja dengan jujur sedang berjuang.
Karena mencintai Indonesia tidak selalu dilakukan di medan perang.
Kadang, cinta kepada negeri ditunjukkan melalui hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan adalah keberanian untuk melakukan yang benar meski tidak mudah.
Keberanian untuk menghargai perbedaan.
Keberanian untuk berkata jujur.
Keberanian untuk menjadi generasi yang membawa perubahan.
Jika dahulu para pahlawan mengorbankan nyawa agar kita bisa hidup merdeka…
Lalu, apa yang akan kita korbankan untuk menjaga kemerdekaan itu?
Akankah kita terus mengeluh tanpa bertindak?
Atau kita memilih menjadi bagian dari perubahan?
Aku percaya…
Indonesia tdak membutuhkan generasi yang hanya pandai menghafal sejarah.
Indonesia membutuhkan generasi yang mau meneruskan semangat sejarah.
Generasi yang berani bermimpi.
Berani berkarya.
Berani menjaga persatuan.
Berani berkata tidak pada keserakahan, kebencian, dan kebohongan.
Karena perjuangan belum selesai.
Kemerdekaan bukan warisan yang cukup dikenang.
Kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga.
Hari ini aku berjanji…
Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh.
Aku akan menghargai perbedaan.
Aku akan mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan.
Sebab masa depan negeri ini bukan hanya berada di tangan para pahlawan yang telah gugur.
Masa depan Indonesia…
Berada di tangan kita.
Dengan semangat persatuan dan cinta tanah air…
Mari kita jaga Indonesia.
Merdeka!
Merdeka!
*Murid SMK YPM3 Taman kelas 11 MPLB-3





