LIPUTANINSPIRASI, Sidoajo— Sebagai bentuk wujud kepedulian terhadap isu HIV yang berkembang di Kabupaten Sidoarjo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas Dikbud) Kabupaten Sidoarjo menggelar sosialisasi penanggulangan dan pencegahan HIV bagi kalangan remaja tahun 2026.
Kegiatan yang dikemas dalam sosialisasi tahap awal ini ditujukan bagi seluruh kepala sekolah, pengawas serta pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), juga guru BK (Bimbingin Konseling) tingkat SMP negeri dan swasta se-Kabupaten Sidoarjo, pada (30/7/2026) pagi.
Proses pelaksanaannya dibuka oleh Plt Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd dan dilakukan secara hybrid, yakni secara luring (tatap muka) dan daring (online) di pusatkan di Aula SMP Negeri 4 Sidoarjo. Tercatat sebanyak 225 peserta mengikuti secara luring dan 225 peserta secara daring, sehingga total peserta mencapai 450 orang.
Kepala Kabid Mutu Pendidikan dari Dinas Dikbud Sidoarjo Dr. Lilik Sulistyowati, M.Pd menegaskan kalau kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman, wawasan, edukasi, serta informasi yang benar mengenai HIV kepada satuan pendidikan. Hal ini penting dilakukan mengingat masih banyaknya simpang siur dan informasi yang kurang tepat di tengah masyarakat mengenai penularan maupun pencegahan HIV.
“Kami ingin memberikan edukasi yang benar terkait HIV itu seperti apa, bentuk penularannya bagaimana, serta penanggulangan dan pencegahannya seperti apa. Dengan informasi yang tepat, kita berharap tidak ada lagi stigma negatif, diskriminasi, atau pengucilan terhadap siapapun yang terpapar,” jelasnya.
Ia terangkan, satuan pendidikan dinilai sebagai tempat yang sangat strategis. Selain berfungsi melahirkan gagasan dan mentransfer ilmu pengetahuan, sekolah juga menjadi wadah pembentukan serta penguatan karakter peserta didik.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Dikbud Sidoarjo berkolaborasi dengan dua instansi terkait, yakni Dinkes Sidoarjo, untuk memberikan edukasi dari sudut pandang medis terkait HIV, penularan, dan pencegahannya. Juga dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo untuk memberikan penguatan karakter dan moralitas keagamaan bagi para remaja.
Kedepan, Disdikbud Sidoarjo juga mengagendakan kegiatan sosialisasi serupa untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) negeri dan swasta di seluruh wilayah Kabupaten Sidoarjo.
Diharapkan melalui kegiatan ini, para kepala sekolah dan tim UKS dapat merancang berbagai program serta inovasi pencegahan HIV di lingkungan sekolah masing-masing. “Pada akhirnya, kepala sekolah diharapkan mampu menggerakkan seluruh warga sekolah untuk mewujudkan lingkungan dan budaya belajar yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik,” harap Bu Lilis_sapaan akrabnya.
Bu Lilis tambahkan, untuk pencegahan HIV tidak cukup dilakukan melalui penyampaian informasi semata, tetapi harus diwujudkan dalam budaya sekolah yang sehat, aman, ramah anak, dan bebas dari perundungan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, serta perilaku berisiko lainnya. “Di sinilah kepemimpinan Bapak dan Ibu Kepala Sekolah menjadi kunci dalam menggerakkan seluruh warga sekolah,” tambahnya.
“Saya berharap setelah kegiatan ini, Bapak dan Ibu dapat mengimplementasikan hasil sosialisasi melalui penguatan pendidikan karakter, optimalisasi layanan Bimbingan dan Konseling, pelaksanaan UKS, kolaborasi dengan Puskesmas, serta menjalin komunikasi yang erat dengan orang tua sebagai mitra utama dalam mendampingi remaja,” harapnya lagi.
Oleh karena itu, mari kita bangun sinergi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar setiap anak mendapatkan informasi yang benar, pendampingan yang tepat, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
“Saya percaya, dengan komitmen dan kepemimpinan Bapak dan Ibu Kepala Sekolah, kita dapat menciptakan satuan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga mampu melindungi peserta didik dari berbagai risiko yang mengancam masa depan mereka,” pungkas Bu Lilis.(mad/aba)




