Oleh : Moh. Ibnu Athoillah*
Dalam riwayat Al-Bukhari dari Aisyah disebutkan, “Adalah Rasulullah ﷺ apabila masuk sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”
Bahkan beliau sampai mengencangkan ikat pinggangnya.
Menanggapi hadis ini, Abdurrazzaq punya pendapat bahwa maknanya adalah menjauhi istri-istrinya itu ntuk fokus beribadah. Pendapat ini juga diceritakan dari Ats-Tsauri.
Dikuatkan pula oleh Al-Khattabi berkata: Ada kemungkinan maknanya adalah bersungguh-sungguh dalam ibadah, sebagaimana dikatakan: “Aku mengencangkan ikat pinggangku untuk urusan ini,” yang berarti bersiap siaga. Bisa juga bermakna gabungan keduanya (bersungguh-sungguh sekaligus menjauhi istri), baik secara hakiki maupun kiasan.
”Menghidupkan malamnya”: Artinya begadang untuk ketaatan. Beliau menghidupkan dirinya dengan tidak tidur di malam tersebut, karena tidur adalah saudara dari kematian. Beliau menyandarkan kata “hidup” pada malam hari karena jika seseorang terjaga di malam hari, maka malam itu seolah menjadi hidup dengan aktivitasnya.
Hal ini senada dengan sabda beliau: “Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan,” maksudnya: janganlah kalian selalu tidur sehingga kalian seperti orang mati dan rumah kalian menjadi seperti kuburan.
Maka Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh malam terakhir dengan amal-amal yang tidak beliau lakukan di sisa bulan lainnya. Di antaranya adalah menghidupkan malam, yang mungkin berarti menghidupkan seluruh malam tersebut.
Hal ini didukung oleh hadis Aisyah—meskipun ada jalur periwayatan yang lemah—yang berbunyi: “Dan beliau menghidupkan seluruh malam.”
Lalu bagaimana hubungan kesungguhan ibadah sepuluh hari terahir dengan Lailatul Qadar?
Secara zahir, benar bahwa salah satu alasan terkuat peningkatan ibadah Nabi ﷺ adalah untuk bertepatan dengan Lailatul Qadar. Namun, para ulama memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara “usaha” dan “hadiah” atau karunia malam tersebut.
Pandangan Ulama
Pertama : Ini merupakan strategi “Jaring Ikan” Berhati hati. Banyak ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa hikmah disembunyikannya tanggal pasti Lailatul Qadar adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh di sepanjang sepuluh malam terakhir. Nabi ﷺ tidak hanya beribadah pada malam ganjil saja. Dengan “menghidupkan seluruh malam” Yakni tanggal 21 hingga 30 Ramadhan, beliau memberikan teladan bahwa cara paling pasti untuk mendapatkan Lailatul Qadar adalah dengan tidak melewatkan satu malam pun tanpa ibadah.
Dalam kaidah ushul, ini disebut sebagai bentuk ihtiyat (kehati-hatian) agar tidak kehilangan momentum emas tersebut.
Kedua : Lailatul Qadar sebagai Buah dari Kesungguhan. Ulama seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menekankan bahwa kesungguhan Nabi ﷺ (seperti mandi dan memakai wewangian di antara dua Isya) adalah bentuk pemuliaan terhadap tamu agung.
Pandangan ulama dalam hal ini adalah: Lailatul Qadar bukan sekadar keberuntungan yang datang tiba-tiba, melainkan anugerah bagi mereka yang mempersiapkan diri.
Seseorang yang “mengencangkan ikat pinggang” sejak malam ke-21 dianggap lebih layak menerima pancaran cahaya Lailatul Qadar dibanding mereka yang hanya mencarinya secara instan di satu malam tertentu.
Ketiga : Meskipun Lailatul Qadar adalah motivasi yang sah, para ulama tasawuf mengingatkan agar niat ibadah tetap berporos pada ketaatan kepada Allah.
Jika seseorang hanya beribadah karena mengejar “pahala 1000 bulan”, ada risiko ia akan berhenti beribadah setelah merasa malam itu lewat.
Sebaliknya, Nabi ﷺ mengajarkan kesungguhan di sepuluh malam terakhir sebagai bentuk puncak penghambaan di akhir bulan suci. Sebagaimana kaidah: “Amalan itu dinilai dari penutupnya”.
Keempat : Menghidupkan malam itu sama dengan menghidupkan hati.
sebagaimana hadis “Jangan jadikan rumahmu seperti kuburan”, para ulama berpendapat bahwa orang yang tidak beribadah di malam Lailatul Qadar—padahal ia mampu—dianggap seperti “orang mati” di tengah malam yang sangat “hidup”.
Kesungguhan ibadah adalah cara untuk menyelaraskan detak jantung dan spiritualitas kita dengan alam semesta yang saat itu sedang dipenuhi oleh turunnya para malaikat.
Apakah seseorang yang sudah bersungguh-sungguh pasti mendapatkannya? Ulama membagi tanda perolehan Lailatul Qadar menjadi dua, yakni :
Tanda Alam. Sebagaimana disebutkan bahwa air asin menjadi tawar, atau matahari yang terbit dengan sinar yang tenang, tidak menyengat, di pagi harinya.
Sementara Tanda Spiritual (Nafsiyah): Ini yang paling ditekankan ulama. Tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar adalah perubahan perilaku setelah Ramadan. Jika kesungguhan di sepuluh malam terakhir membekas menjadi karakter yang lebih baik, maka itulah hakikat keberhasilan meraih Lailatul Qadar.
Kesimpulan .
Kami bisa menyimpulkan bahwa semangat di sepuluh malam terakhir memang dirancang untuk menjemput Lailatul Qadar, namun metodenya adalah dengan totalitas, bukan pilih-pilih malam. Kesungguhan itu sendiri adalah bentuk penghormatan kepada Allah yang telah merahasiakan malam tersebut agar hamba-Nya terus mengetuk pintu rahmat-Nya tanpa henti.
* Penulis adalah Pengasuh Majlis Taman Surga Sidoarjo.
* Sumber primer : Kitab al Mawahib al Laduniyah. Al Alamah Ahmad bin Muhammad al Qastalany.





