LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo— Meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Timur di akhir tahun 2025 bukanlah perjalanan singkat bagi SMP Negeri 1 Jabon.
Penuh perjuangan yang notabene sekolah desa pinggiran, namun tidak mau kalah dengan sekolah tengah kota. Berkat kesadaran bersinergi atau kolaborasi dan komitmen bersama secara konsisten, semuanya bisa berjalan dengan baik.
Menurut Kepala SMP Negeri 1 Jabon Yayuk Dian Mandasari, S.Pd M.Pd kalau ikhtiar ini berangkat dari kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan hidup membutuhkan kolaborasi, keteladanan dan konsistensi.
Langkah awal dilakukan dengan menjalin kemitraan strategis bersama Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) Jabon, mulai Lurah Dukuh Sari, Koramil Jabon, Polsek Jabon, Puskesmas Jabon, serta para pengusaha se wilayah Jabon.
“Sinergi lintas sektor ini menjadi fondasi kuat dalam menumbuhkan budaya peduli lingkungan di sekolah,” tutur Yayuk Dian Mandasari, pada (2/1/2026) pagi.
Ia katakan, bentuk nyata kolaborasi diwujudkan melalui program edukatif dan ekologis. Melalui pembelajaran IPA, peserta didik mempraktikkan teknik mencangkok tanaman produktif sebagai bagian dari proyek pembelajaran berbasis lingkungan. Tanaman hasil cangkok tersebut kemudian disumbangkan ke lingkungan sekitar melalui Forkopimcam Jabon.
“Kepedulian tersebut merupakan sebagai kontribusi nyata sekolah dalam mendukung penghijauan wilayah Jabon, sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai agen perubahan lingkungan,” terang Bu Dian_sapaan akrabnya.
Lanjutnya, komitmen peduli lingkungan juga diwujudkan melalui aksi langsung warga sekolah, seperti kegiatan membersihkan sungai di sekitar sekolah. Kegiatan ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem air.
Di sisi lain, SMP Negeri 1 Jabon secara konsisten memerangi sampah dengan membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik. “Sampah anorganik dimanfaatkan secara kreatif, mulai dari dijual hingga diolah menjadi pot tanaman dan karya peserta didik yang bernilai guna,” jelasnya.
Kondisi tersebut dilakukan secara konsisten, sehingga budaya cinta lingkungan semakin menguat melalui program Sedekah Oksigen. Sebuah gerakan pembiasaan menanam dan merawat tanaman sebagai wujud kontribusi menciptakan udara bersih.
“Jadi, setiap tanaman yang tumbuh dipandang sebagai sedekah kehidupan, memberi manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Disamping itu juga ada kegiatan pembiasaan positif yang ditanamkan melalui program Jumat Bersih. Setiap hari Jumat, seluruh warga sekolah bergotong royong membersihkan ruang kelas, halaman, taman, dan saluran air.
Sehingga kegiatan ini membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, serta kebersamaan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Semangat Adiwiyata di SMP Negeri 1 Jabon juga menyentuh aspek wirausaha ramah lingkungan. Sekolah mengelola green house yang membudidayakan sayuran seperti pakcoy dan sawi, dengan hasil panen dijual kepada bapak dan ibu guru.
Selain itu, sekolah mengelola kolam lele yang memanfaatkan air buangan bekas siraman hidroponik. “Alhamdulillah, hasil panen lele dapat dikonsumsi oleh warga sekolah sekaligus dijual untuk mendukung keberlanjutan program,” jelas Bu Dian melengkapi.
Jadi, seluruh ikhtiar ini tentu membutuhkan tenaga, energi, dan komitmen bersama. Tidak semua proses berjalan mudah dan instan. “Namun, melalui kolaborasi, pembiasaan, dan ketekunan, SMP Negeri 1 Jabon terus melangkah menuju Sekolah Adiwiyata Provinsi,” semangatnya.
“Bagi SMP Negeri 1 Jabon, Adiwiyata bukan semata tentang penghargaan, melainkan ikhtiar membangun peradaban hijau, sekolah yang menanam nilai, merawat bumi, dan menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter dan berkelanjutan,” pungkas Yayuk Dian Mandasari.(mad/aba)





