LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo– Pengasuh pengajian Majelis Taman Surga.Ust. Moh. Ibnu Athoillah—atau yang akrab disapa oleh para jamaah dengan panggilan Yai Atho’ menjelaskan tentang esensi kesabaran yang seringkali disalahpahami oleh masyarakat umum.
Beliau menekankan bahwa sabar bukan sekadar diam, melainkan sebuah tindakan aktif dalam menjaga batin dan lahiriah.demikian disampaikan saat pengajian kitab “Risalatul Muawanah” di Musholla Nurul Falah Jemundo Taman, Rabu(4/3/2026).
Beliau menjelaskan bahwa sabar terbagi menjadi dua dimensi penting, yaitu :
Sabar dimensi batin : Yakni kemampuan untuk meninggalkan rasa jengkel atau menggerutu di dalam hati atas ketetapan Allah. Ia menerima dengan ridho.
Sementar Sabar dimensi Lahir, yaitu menahan diri untuk tidak mengeluh kepada sesama makhluk.
”Mengeluh kepada sesama itu tanda kurangnya rasa cukup kita kepada Allah, padahal di tangan-Nyalah segala kerajaan sesuatu. Mengadu ke sesama manusia itu seringkali sia-sia karena mereka pun tidak kuasa menolong dirinya sendiri,” ujar Pengasuh Majlis Taman Surga Sidoarjo di hadapan jamaah yang menyimak dengan tekun.
Kapan Kesabaran itu terjadi? Ia menjelaskan bahwa prilaku Sabar itu terjadi ketika awal menghadapi permasalahan.Beliau juga memberikan pencerahan bahwa menceritakan rasa sakit kepada dokter atau meneteskan air mata karena sedih adalah hal yang manusiawi dan tidak membatalkan pahala sabar. Namun, Yai Atho’ mengingatkan agar jamaah menghindari tindakan yang menunjukkan ketidakridaan ekstrem, seperti meratapi nasib secara berlebihan atau menyakiti diri sendiri.
Ketika memasuki pembahasan mengenai gangguan dari orang lain—baik berupa gangguan fisik, harta, maupun kehormatan. Yai Atho’ mengajak jamaah untuk naik level dalam berakhlak.
”Kesempurnaan sabar itu ada pada kemampuan kita untuk memaafkan, menahan lidah dari mendoakan keburukan bagi yang menyakiti kita, dan tidak menyimpan dendam,” tambahnya. Beliau kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Ash-Shura ayat 40 yang menjanjikan pahala langsung dari Allah bagi mereka yang mampu memaafkan dan berbuat baik.(PR/aba)




