LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo– Menurut Ust. Ibnu Athoillah, tentang konsep Zuhud yang selama ini sering kali disalahpahami oleh banyak orang. Zuhud bukan berarti Miskin, tapi hati yang tak terikat oleh dunyawiyah. Demikian disampaikan saat mengisi mengajian kitab Risalatul Muawanah karya Abdullah bin Alwi al Haddad. Di Musholla Nurul Falah desa Jemundo Taman Sidoarjo. Senin (9/3/2026).
Yai Atho’ menekankan bahwa zuhud adalah kunci kebahagiaan sejati. Beliau menjelaskan beberapa poin penting dari kitab yang dikaji. Jika cinta dunia adalah akar segala dosa, maka zuhud (melepaskan keterikatan hati pada dunia) adalah pangkal dari segala ketaatan dan kebaikan, tegasnya.
Orang yang zuhud akan merasakan ketenangan lahir dan batin, sementara mereka yang rakus terhadap dunia hanya akan memupuk kegundahan dan kesedihan yang tiada akhir, bahkan diperbudak oleh harta.
Seseorang dikatakan jujur dalam Zuhud-nya apabila ia tidak terlalu gembira saat mendapat harta dan tidak merasa sedih atau hancur saat kehilangan dunianya.
”Zuhud itu ibarat memegang dunia di tangan untuk kemaslahatan, namun tidak membiarkannya masuk dan merajai hati,” pesan Pengasuh Majlis Taman Surga Sidoarjo, dalam pengajian tersebut.
Orang Zuhud tidak merasa sedih saat kehilangan materi, karena yakin semua hanya titipan.
Mengutamakan Allah di atas segala kesibukan duniawi.
Ia ingatkan hendaknya bersifat Zuhud di dunia, karena zuhud adalah pembawa kabar bahagia, manifestasi perhatian Allah, dan tanda kewalian. Sebagaimana mencintai dunia adalah pangkal dari segala kesalahan, maka membenci dunia,tidak terikat padanya adalah pangkal dari segala ketaatan dan kebaikan. Tambahnya.
Bahwa dunia adalah ‘Kesenangan yang Menipu’. Sementara menurut Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: ‘Kesenangan yang menipu itu seperti hijaunya kebun dan permainan”.tegasnya (Pr/aba)




