LIPUTANINSPIRASI, Pamekasan – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana di kompleks pemakaman religius Batu Ampar, Madura, mendadak berubah menjadi lautan manusia. Memasuki pertengahan bulan Sya’ban, arus peziarah dari berbagai penjuru daerah terus mengalir deras demi memanjatkan doa dan mengharap keberkahan dari para wali.
Tradisi Tahunan yang Tak Pernah Surut
Bagi masyarakat Madura dan sekitarnya, berziarah ke makam para leluhur dan waliullah sebelum puasa adalah sebuah kewajiban spiritual. Kompleks Makam Batu Ampar, yang dikenal dengan karomah para penyebar agama Islam di Madura, menjadi magnet utama.
Rombongan bus pariwisata, mobil pribadi, hinggai motor dari Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan luar pulau.Selain mendoakan para wali, peziarah datang untuk ngalap berkah (mencari keberkahan) dan membersihkan hati menyambut bulan puasa.
Nampak lantunan ayat suci Al-Qur’an, bacaan Tahlil, dan shalawat bergema dan memadati di area pemakaman Syekh Abdul Manan dan kerabatnya. hingga siang ini peziarah terus berdatangan. Demikian pantauan reporter Liputaninspirasi.com Sabtu siang(24/1/2026)
”Kami datang jauh-jauh dari Lumajang. Sudah menjadi tradisi keluarga setiap Sya’ban harus ke sini. Rasanya batin lebih tenang sebelum masuk bulan puasa,” ujar Khoirul Anam(45), salah satu peziarah.
Membludaknya peziarah ini juga membawa angin segar bagi warga lokal. Sektor UMKM di sekitar lokasi mengalami peningkatan omzet yang signifikan.
Pedagang Cendera mata seperti tasbih, kopiah, kaos,dan baju khas Madura laris manis. Begitu pula warung nasi petis sate khas, dan kripik samiler Pamekasan banyak dijajakan ke pengunjung.(Ss/Ab)
Reporter : Ahmad Thobari.




