LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo – Nampak suasana semangat jamaah Musholla Nurul Falah, Jemundo mengikuti pelaksanaan shalat Tarawih pada malam ke-30 Ramadhan.Kamis(19/3/2026)
Ust. Moh Ibnu Athoillah memberikan pesan penting bagi jamaah terkait menyikapi potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal. Pentingnya Konsistensi dalam Berkeyakinan.
Dalam kultumnya, beliau menekankan bahwa setiap Muslim harus memiliki keteguhan sikap dalam mengikuti metode penentuan bulan hijriah.
Bagi Pengikut Rukyatul Hilal, Mereka yang berpegang pada hasil pengamatan hilal yang ditetapkan pemerintah, wajib taat dan patuh pada keputusan tersebut dari awal hingga akhir.
Sementara bagi Pengikut Hisab, Mereka yang memilih berdasarkan perhitungan astronomis (hisab) juga harus konsisten pada pendiriannya sejak awal Ramadan hingga Idul Fitri.
Ust. Atho’ memperingatkan ada resiko hukum fikih akibat ketidakkonsistenan atau bersikap “plin-plan” atau tidak konsisten dalam mengikuti metode ini bisa berakibat pada hukum syariat yang serius.
”Ketidakkonsistenan terhadap pilihan metode bisa menjadi masalah hukum. Seseorang bisa terjatuh pada hukum haram—seperti berpuasa di hari yang sebenarnya sudah Idul Fitri bagi keyakinannya—atau meninggalkan kewajiban jika ternyata ia masih wajib berpuasa menurut ketetapan awal yang ia pilih,” tegas beliau.
Meski menekankan pada keteguhan prinsip masing-masing, Ust. Atho’ menutup pesannya dengan ajakan untuk menjaga kesejukan di tengah masyarakat dan tetap mengaji atau mencari pengetahuan dalam melaksakan ibadah.
Perbedaan hari raya jangan sampai merusak kerukunan antar sesama warga.
”Yang paling utama adalah menjaga persaudaraan dan kerukunan. Perbedaan hari raya adalah hal yang lumrah, namun ukhuwah islamiyah harus tetap dijaga erat,” pungkasnya di hadapan jamaah.(Pr/aba)





