LIPUTANINSPIRASI, Mojokerto – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto terus menunjukkan komitmennya dalam penanganan kasus kesehatan masyarakat, khususnya pada balita dengan kondisi khusus. Salah satunya melalui pendampingan intensif terhadap balita asal Desa Sambilawang, Kecamatan Dlanggu, yang mengalami gizi buruk disertai dugaan penyakit langka.
Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa, bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto Sofiya Hanak Albarraa, Ketua Baznas, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Kesehatan, serta jajaran Forkopimca Dlanggu dan pemerintah desa Sambilawang, melakukan kunjungan langsung ke kediaman Ahmad Novan Dwi Kristian (22 bulan) pada Sabtu (11/4) sore.
Dalam keterangannya, Bupati menjelaskan, kondisi awal Novan diduga sebagai stunting. Namun, setelah dilakukan intervensi perbaikan gizi, berat badan anak tersebut belum menunjukkan peningkatan signifikan.
“Dengan usia hampir dua tahun, berat badannya masih jauh di bawah normal. Seharusnya sekitar 10 kilogram, namun saat ini masih 5 kilogram. Setelah dilakukan intervensi gizi, belum ada perkembangan sehingga diduga ada faktor penyakit lain,” ungkap Bupati yang akrab disapa Gus Barra.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di RSUD dr. Soetomo, Novan didiagnosis mengalami alergi susu sapi berat, suspect lamelar ichthyosis, serta kondisi severely underweight dan severely stunted (stunting). Penanganan dilakukan oleh tim medis dari Poli Nutrisi dan Penyakit Metabolik (NPM).
Dari hasil pemeriksaan tersebut, pasien diwajibkan mengonsumsi susu khusus alergi (Neocate) dengan dosis tertentu, menjalani pola makan ketat dengan lauk utama daging selama dua minggu, serta menghindari makanan yang mengandung susu sapi, telur, dan kacang-kacangan. Dalam waktu dekat, pasien juga dijadwalkan menjalani pemeriksaan lanjutan meliputi pemeriksaan mata dan kulit.
Gus Barra menambahkan, untuk memastikan diagnosis lebih lanjut, pihaknya juga akan memfasilitasi tes genetik dengan pengambilan sampel darah yang rencananya dikirim ke Korea.
“Tes genetik ini penting untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita bersifat genetik atau faktor lainnya. Karena pemeriksaan tersebut belum tersedia di dalam negeri, sampel akan dikirim ke Korea,” jelasnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Mojokerto turut menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp 6 juta guna membantu kebutuhan pengobatan dan perawatan pasien.
Selain itu, pendampingan juga dilakukan oleh tenaga kesehatan setempat, meliputi bidan desa, ahli gizi puskesmas, serta perangkat desa yang turut mengawal proses rujukan dan pengobatan pasien.
“Kami akan terus hadir mendampingi keluarga, baik dari sisi pengobatan maupun dukungan sosial. Kami berharap keluarga tetap sabar dan kuat dalam merawat putranya,” imbuhnya.
Dinas Sosial juga tengah memproses bantuan sosial bagi keluarga guna meringankan beban selama proses pengobatan berlangsung.
“Berkaitan dengan penanganan sosial sudah akan diurus oleh Dinsos, karena memang telah diusulkan untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah,” pungkas Gus Barra. (Dhn/Pemkab)




