LIPUTANINSPIRASI,Sidoarjo — Tidak semua perjalanan dimulai dengan ambisi untuk menduduki jabatan. Sebagian justru berangkat dari kebiasaan sederhana: mengetuk pintu, duduk dengan takzim, mendengarkan nasihat, dan menjaga hubungan dengan para guru serta sesepuh. Dalam tradisi pesantren, itulah makna sowan, sebuah laku yang menempatkan penghormatan dan persaudaraan di atas kepentingan sesaat.
Di tengah dinamika menjelang Konfercab XXII Nahdlatul Ulama (NU) Sidoarjo, silaturahmi dr. Hidayatullah, Sp.N. kepada sejumlah tokoh agama dan sesepuh menghadirkan kembali nilai tersebut. Dalam sejumlah pertemuan, suasana sederhana menjadi ruang untuk berbincang, mendengarkan, dan merawat hubungan yang telah terjalin.
Bagi kalangan pesantren, sowan bukan sekadar kunjungan. Ada kerendahan hati untuk mendengar, penghormatan terhadap pengalaman, serta kesediaan menerima nasihat. Nilai itu menjadi penting ketika dinamika organisasi mulai menghangat dan nama-nama kandidat diperbincangkan.
Sebab, kepercayaan tidak lahir hanya dari perkenalan, tetapi tumbuh melalui hubungan yang dirawat dari waktu ke waktu.
Dalam kontestasi organisasi, setiap pertemuan mudah dibaca sebagai bagian dari upaya membangun dukungan. Namun, silaturahmi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kalkulasi politik. Ia menjadi ruang untuk memahami harapan para kiai, mendengar kegelisahan warga, dan menyerap pandangan tentang masa depan jam’iyah.
Perjalanan sowan dr. Hidayatullah menjadi relevan bukan semata-mata karena berlangsung menjelang Konfercab, melainkan karena tradisi menghormati kiai dan sesepuh merupakan bagian penting dari kehidupan Nahdlatul Ulama. Meski demikian, setiap pertemuan tetap memiliki maknanya sendiri dan tidak serta-merta dapat diartikan sebagai dukungan terhadap pencalonan.
Di sinilah letak kedalaman silaturrahim . Seseorang tetap memperoleh pelajaran berharga, bahkan ketika tidak membawa pulang janji atau kepastian.
Kepemimpinan NU bukan hanya tentang siapa yang memperoleh amanah, tetapi juga tentang bagaimana amanah itu kelak dijalankan. Persatuan, kaderisasi, pelayanan umat, dan kemampuan merangkul perbedaan merupakan pekerjaan yang tidak selesai hanya dengan terpilihnya seorang ketua.
Tradisi sowan mengingatkan bahwa mendengarkan sama pentingnya dengan berbicara, sementara menghormati perbedaan merupakan bagian dari kedewasaan berorganisasi. Dalam semangat ukhuwah nahdliyah, perbedaan pilihan seharusnya tidak menghapus persaudaraan dalam rumah besar NU.
Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih dalam Konfercab XXII PCNU Sidoarjo akan menghadapi tanggung jawab yang sama: menjaga jam’iyah agar tetap kuat, dekat dengan umat, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Perjalanan silaturrahim dr. Hidayatullah, Sp.N. membawa pesan sederhana yang relevan bagi setiap ikhtiar kepemimpinan: jabatan mungkin diperoleh melalui pemilihan, tetapi kepercayaan tumbuh melalui sikap, ketulusan, dan konsistensi.
Sebab, menjadi santri yang sowan bukan sekadar tentang siapa yang ditemui atau apa yang diperoleh dari sebuah pertemuan. Lebih dari itu, ia adalah kesediaan untuk terus belajar, menghormati para sesepuh, dan menjaga persaudaraan, jauh sebelum sebuah amanah diputuskan.(ch/aba)




