LIPUTANINSPIRASI,Sidoarjo – Majelis Pengajian Rutin Kitab Al-Hikam kembali digelar di Graha 1 Yayasan Pendidikan Ma’arif ( YPM) Ngelom, Sidoarjo, Jum’at (2/10/2026) malam.
Pengajian yang diasuh oleh Dr. KH. Abdul Kholiq Hasan, M.H.I., kali ini membahas hikmah tentang etika seorang hamba dalam menyikapi pemberian dari sesama makhluk.
Dalam kajiannya, Kiyai Kholiq mengutip kalam hikmah dari Al-Syaikh Taaj al-Diin Ibn ‘Athaillah al-Sakandariy (709 H) dalam Kitab Al-Hikam:
*الْعَطَاءُ مِنَ الْخَلْقِ حِرْمَانٌ وَالْمَنْعُ مِنَ اللهِ إِحْسَانٌ*
_“Pemberian dari makhluk adalah suatu penghalang, sedangkan penolakan dari Allah adalah suatu kebaikan.”_
Menurut Abah, hikmah ini mengajarkan bahwa ukuran kebaikan tidak selalu sama dengan apa yang tampak menyenangkan bagi manusia.
Pemberian dari sesama makhluk apabila membuat hati bergantung kepada selain Allah, dapat menjadi “kehilangan” dalam makna spiritual karena menjauhkan seseorang dari rasa cukup dan tawakal kepada-Nya.
“Agar pemberian dari makhluk tidak menjadi hijab, ada tiga etika yang harus dijaga,” ujar Abah Kholiq Pengasuh Ponpes Al – Amanah Tambak Beras Jombang di hadapan jamaah.
Pertama, Yakin bahwa pemberian itu hakikatnya dari Allah. Hati harus mantap bahwa Allah-lah yang memberi nikmat yang sebenarnya. Maka sikap yang harus lahir adalah bersyukur kepada Allah SWT.
Kedua, Yakini pemberi hanyalah perantara. Makhluk yang memberi di depan kita adalah wasilah atau perantara rezeki dari Allah. Karena itu, kita diperintahkan untuk mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan kepada pemberi tersebut.
Ketiga, Manfaatkan pemberian di jalan Allah. Rezeki atau pemberian yang diterima harus digunakan untuk hal-hal yang baik dan diridhai Allah. Jika dimanfaatkan di jalan Allah, maka pemberian itu akan menjadi jalan wusul atau sampai kepada Allah.
Yai Kholiq menegaskan, jika seseorang memiliki keyakinan bahwa pemberian itu murni dari makhluk, bukan dari Allah, maka keyakinan tersebut dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan.
“Sebaliknya, sesuatu yang tidak diberikan Allah atau sesuatu yang menurut keinginan manusia terasa sebagai penolakan, bisa menjadi bentuk kasih sayang dan kebaikan yang belum segera dipahami hikmahnya. Karena itu, seorang hamba diajak untuk tidak tergesa-gesa menilai pemberian sebagai keberuntungan dan penolakan sebagai keburukan,” pungkasnya.
Pengajian ditutup dengan doa agar jamaah senantiasa diberi hati yang bersyukur saat menerima, bersabar saat belum diberi, dan tetap berikhtiar serta menyerahkan penilaian hanya kepada Allah SWT.(PR/aba)




