LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo — Berawal dari sudut Dusun Guyangan, Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung, Sidoarjo, terdapat salah satu perempuan berlatar belakang pendidikan teknik, lebih memilih turun tangan demi menahan laju penumpukan sampah yang melimpah. Dialah Ainul Zurroh.
Dimulai pada 2013 saat berkunjung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Griyo Mulyo Jabon, Sidoarjo. Pemandangan ribuan ton sampah yang ditumpuk tanpa pengolahan berkelanjutan (open dumping) membuatnya tersentuh, seakan membangkit keilmuannya di teknik untuk dicurahkan.
”TPA saat ini sudah sangat penuh dan overcapacity. Kalau setiap hari kita terus mengeluhkan dan mengirim residu ke sana, TPA tidak akan mampu. Sebagai generasi muda penerus kita harus bangkit itu serta memberikan andil pada pemerintah,” ungkapnya saat ditemui media di lokasi pengolahan sampah miliknya, Rabu (3/9/2026) siang.
Keprihatinan tersebut mendorong Ainul mendirikan CV National Public Needs pada 2018. Dengan modal pribadi, ia membangun fasilitas pengolahan sampah mandiri berkonsep Zero to Landfill. Sebuah skema yang memastikan tidak ada sisa sampah industri yang berakhir menggunung di TPA.
Ia berhasil mengolah 20 ton sampah per hari. Saban hari, truk-truk pengangkut menyetorkan 18 hingga 20 ton sampah dari berbagai pabrik di Sidoarjo, Surabaya, hingga Pasuruan.
Bersama 25 karyawan tetapnya, Ainul mengolah limbah tersebut melalui tiga tahapan utama, pertama Pemilahan Ketat, yaitu memisahkan material bernilai ekonomi yang masih bisa didaur ulang atau dijual kembali.
Kedua Pembersihan Residu, yaitu membersihkan sisa sampah dari pengotor keras seperti batu, kerikil, dan besi agar tidak merusak mesin.
Dan ketiga adalah Pencacahan dan Pembuatan RDF, yaitu sampah residu yang bersih dicacah lalu dipres menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). “Adalah bahan bakar alternatif berkalori tinggi pengganti batu bara,” jelas Ainul.
Ia terangkan, melalui proses terpadu ini, fasilitas milik Ainul mampu memproduksi hingga 5 ton RDF per hari, mengubah ancaman pencemaran menjadi sumber energi baru bagi industri.
Ia menjalankan operasional secara mandiri bertahun-tahun tanpa kucuran APBD tentu bukan hal yang mudah.
Bagi Ainul, inisiatif ini kerap terasa seperti perjuangan sunyi. Usaha ini lebih tepat disebut sebagai usaha sosial. Pengeluaran materi dan tenaga jauh lebih besar dibandingkan keuntungan finansial yang didapat.
“Namun, saya tetap positif dan bersemangat agar target Zero to Landfill bisa tercapai,” tegasnya penuh optimisme.
Bagi Ainul, pengolahan limbah bukan sekadar urusan angka atau keuntungan teknis, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap masa depan lingkungan. Ainul juga menyadari gerakan swadaya ini membutuhkan penopang yang lebih kuat.
Ia berharap ada kolaborasi yang lebih luas, sinergi nyata antara regulasi pemerintah, komitmen dunia industri, dan kesadaran masyarakat.
“Agar kedepannya krisis sampah di Jawa Timur dapat terurai secara berkelanjutan,” harapnya.(mad/aba)



