LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo – Menuntun seseorang yang akan meninggal, atau sedang menghadapi sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tauhid merupakan momentum krusial yang menentukan keselamatan serta kebahagiaan mereka di akhirat menuju surga.
Hal tersebut disampaikan oleh Ust. Moh. Ibnu Athoillah dalam pengajian rutin Selasa malam di Musholla Nurul Falah, Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. (18/8/2026).
Pengasuh Majlis Taman Surga Sidoarjo ini memaparkan secara detail pandangan fikih dari empat imam mazhab besar mengenai hukum mentalqin orang yang sedang menghadapi kematian . Seluruh imam mazhab menyepakati bahwa amalan ini memiliki landasan hukum yang kuat dari hadis Nabi Muhammad SAW.
“Mayoritas ulama dari empat mazhab, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, sepakat menetapkan bahwa hukum mentalqin orang yang sedang naza’/sskarayul maut adalah sunnah. Ini adalah bentuk ikhtiar sesama muslim untuk saling menyelamatkan di akhir hayat,” ujar Yai Atho’ di hadapan para jamaah.
Beliau kemudian merinci perbedaan teknis dan penekanan dari masing-masing mazhab. Mazhab Syafi’i menilai talqin sebagai kesunnahan yang sangat dianjurkan. Penuntun disarankan berwajah ramah dan tidak terlalu sering mengulang kalimat tauhid agar orang yang naza’ tidak merasa bosan atau terbebani.
Sementara Mazhab Hanafi, sunnah melakukan talqin sebelum ruh sampai di tenggorokan. Disarankan menggunakan kalimat Laa ilaaha illallah tanpa menyambungnya dengan Muhammadur rasulullah agar lebih ringan diikuti oleh lisan yang sudah melemah.
Mazhab Maliki, menyepakati hukum sunnah ini, namun memberikan catatan khusus. Jika orang yang naza’ dikhawatirkan akan menolak atau marah karena kondisi fisik yang sangat menderita, maka talqin sebaiknya dihentikan sementara atau dilakukan dengan sangat halus.
Dan Mazhab Hanbali menegaskan talqin hukumnya sunnah berdasarkan perintah langsung dalam hadis. Menurut mazhab ini, jika setelah ditalqin orang tersebut sempat berbicara urusan dunia, maka talqin harus diulang kembali agar ucapan terakhirnya tetap kalimat tauhid.
“Saat seseorang menghadapi sakaratul maut, ujian terberat sedang terjadi. Di sinilah pentingnya kehadiran kita untuk mentalqin mereka. Talqin itu bukan sekadar tuntunan, melainkan bantuan terakhir kita untuk menjaga keimanan mereka agar akhir hayatnya berstatus husnul khatimah,” tegas Yai Atho’.(Ss/aba)




