Oleh : Moh. Ibnu Athoillah.*
Bulan Ramadhan seringkali terasa seperti “madrasah” spiritual di mana amal kebaikan menjadi begitu ringan dilakukan. Menahan lapar, bersedekah, tadarus Al-Qur’an, hingga bangun di sepertiga malam untuk Tahajud terasa mengalir tanpa beban. Namun, tantangan sesungguhnya muncul tepat setelah gema takbir Idul Fitri berlalu.
Bagaimana menjaga konsistensi tersebut?
Pesan Istiqomah dalam Surat Al-Insyirah
Allah SWT menginginkan hamba-Nya untuk terus bergerak dalam kebaikan. Seringkali kita merasa berat melakukan ibadah di luar Ramadhan karena suasana lingkungan yang telah berubah.
Di sinilah kita perlu merenungkan pesan Allah SWT dalam Surat Al-Insyirah ayat 7, yang artinya : “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”
Ayat ini merupakan pengingat bahwa dalam Islam tidak ada kata “pensiun” dari amal saleh. Ketika satu ibadah misal di Ramadhan telah usai, seorang mukmin diajak untuk segera berpindah ke ibadah berikutnya. Ini adalah prinsip kontinuitas dalam beramal.
Jika di bulan Ramadhan kita terbiasa dengan ritme ibadah yang padat, maka di bulan-bulan berikutnya kita diajak untuk tidak membiarkan grafik spiritual kita merosot tajam.
Mengapa Terasa Berat?
Memang diakui, melakukan ibadah di luar Ramadhan memiliki tantangan berbeda. Tanpa “atmosfer” kolektif di mana semua orang berpuasa dan masjid selalu ramai, godaan hawa nafsu terasa lebih nyata. Namun, justru di sinilah nilai ujiannya. Allah ingin melihat apakah kebaikan kita kemarin dilakukan semata-mata karena momentum bulan, atau karena ketulusan mengharap ridha-Nya.
Bulan Syawal sebagai Jembatan Ampunan, untuk memicu kembali semangat yang mulai kendor, Allah memberikan anugrah ‘kado’ berupa momentum Puasa Syawal.
Ibadah ini bukan sekadar pelengkap, melainkan jembatan untuk menjaga ritme ketakwaan. Rasulullah SAW memberikan motivasi besar melalui sabdanya mengenai keutamaan puasa ini yang setara dengan puasa setahun penuh dan menjadi jalan ampunan serta penyempurna amal.
Sebagaimana Sabda Rasululloh SAW dalam sebuah Hadits Riwayat Muslim, yang artinya. “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia bagai berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)
Konsistensi adalah salah satu indikator diterimanya amal. Jangan biarkan tangan menggenggam, sajadah kembali terlipat rapi dan Al-Qur’an kembali berdebu hanya karena Ramadhan telah berlalu.
Mari kita jadikan Puasa Syawal sebagai langkah awal untuk membuktikan bahwa kita adalah hamba Allah di sepanjang tahun, bukan hanya hamba Allah di bulan Ramadhan saja.
* Moh.Ibnu Athoillah
(Pengasuh Majlis Taman Surga – Sidoarjo)




