LIPUTANINSPIRASI, Sidoarjo— Kabupaten Sidoarjo ternyata masih mempunyai lembaga pendidikan jenjang dasar yang dari pemukiman, bahkan untuk menuju lokasinya harus jalan setapak.
Hanya bisa dilewati satu arah kendaraan jenis sepeda dan sepeda motor. SD Negeri Kupang IV terletak di Dusun Kali Alo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Kondisi sekolah tersebut sangat butuh sekali support dari pihak pemerintah. Selain kebutuhan Sarpras fisik, juga pendampingan-pendampingan untuk meningkatkan kompetensi para guru juga siswanya.
Mari kita simak ungkapan Harum Kawaludin, seorang ‘Praktisi Pendidikan Inklusi’ yang pernah melakukan pendampingan kompetensi guru SD Negeri Kupang IV Desa Kupang Jabon Sidoarjo.
Ia ceritakan, kalau keberadaan sekolah ini bisa dikatakan cukup jauh dari pemukiman warga.
Bangunan sekolahnya yang terbuat dari papan berdiri di tengah hamparan sawah dan tambak, serta berada tidak jauh dari muara laut. Sehingga lokasinya relatif sulit dijangkau dan jarang terlihat oleh masyarakat luar.
Untuk mencapai sekolah tersebut, perjalanan harus ditempuh dengan usaha ekstra. Setelah kendaraan mobil diparkir di rumah warga. Perjalanan dilanjutkan dengan dibonceng sepeda motor oleh salah satu guru menuju lokasi sekolah dengan jarak kurang lebih 3 kilometer.
“Akses menuju sekolah hanya berupa jalan setapak yang melintasi area tambak dan persawahan. Jika kita tidak hati-hati kita bisa jatuh masuk tambak. Disamping jalannya kecil juga licin terutama musim penghujan seperti sekarang ini,” kisahnya.
Bagi para siswa, jalur inilah yang setiap hari harus dilalui demi mendapatkan pendidikan. Kondisi alam juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang ketika terjadi banjir rob akibat pasang air laut, area sekolah ikut terendam.
Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat warga sekolah dalam menjalankan aktivitas belajar mengajar.
Kunjungan saya ke SD Negeri Kupang IV dilakukan dalam rangka pendampingan layanan pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas yang bersekolah di sana.
Meski dengan sarana dan kondisi lingkungan yang terbatas, pihak sekolah menunjukkan komitmen kuat untuk memberikan layanan pendidikan yang ramah, adil, dan inklusif bagi seluruh peserta didik tanpa terkecuali.
Semangat para guru di SD Negeri Kupang IV patut diacungi jempol. Mereka menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan keikhlasan, mengabdikan diri di wilayah terpencil demi masa depan anak-anak.
“Jumlah siswa memang tidak banyak, namun antusiasme belajar mereka sangat tinggi. Keceriaan dan semangat untuk bersekolah terpancar jelas dalam setiap kegiatan pembelajaran,” ungkap Harum Kawaludin yang juga sebagai guru di SD Negeri Sawocangring Wonoayu Sidoarjo.
Ia terangkan, mayoritas orang tua siswa bekerja sebagai petani tambak. Penghasilan mereka diperoleh dari hasil budidaya rumput laut yang kemudian dikeringkan, dan dijual ke perusahaan untuk diolah menjadi bahan obat-obatan maupun kosmetik.
Meski hidup dalam keterbatasan, menurut komite yang saya kunjungi para orang tua disini memiliki harapan besar terhadap pendidikan anak-anak mereka. “Mereka berharap, meskipun sekolah berada di daerah terpencil dengan segala keterbatasannya, anak-anak tetap mampu berprestasi dan tidak kalah dengan anak-anak yang bersekolah di perkotaan,” terangnya pada (16/2/2026) pagi.
“SD Negeri Kupang IV menjadi saksi bahwa semangat belajar, pengabdian guru, dan harapan orang tua mampu tumbuh dan bertahan di tengah keterbatasan, menjadikan pendidikan sebagai cahaya bagi masa depan generasi penerus,” tegas Harum Kawaludin yang melakukan pendampingan pada 7 Pebruari 2026.
Usai diberikan pendampingan, Kepala SD Negeri Kupang IV Desa Kupang Jabon, Wahyu Indah Rakhmawati, S.Pd mengaku sangat terkesan.
Kami merasa sangat bersyukur dan terhormat atas kunjungan, serta pendampingan yang diberikan oleh komunitas pemerhati pendidikan inklusi, khususnya dalam mendampingi siswa ABK.
Kehadiran tim pendamping (Bpk Harum dn Bpk Zainal) memberikan energi positif, wawasan baru, serta penguatan moral bagi kami sebagai pendidik bahwa upaya kecil yang kami lakukan di sekolah terpencil pun memiliki arti besar bagi masa depan anak-anak.
“Kami mendapatkan banyak pembelajaran berharga tentang cara memahami kebutuhan belajar siswa ABK, dengan lebih empatik, humanis, dan profesional,” tuturnya.
“Pendampingan ini membuka sudut pandang kami bahwa keterbatasan sarana bukanlah penghalang utama untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif, selama ada kemauan, kepedulian, dan kolaborasi,” ungkap Wahyu Indah Rakhmawati.
Kami berharap pendampingan dan kerja sama ini dapat terus berlanjut secara berkesinambungan, sehingga kami semakin siap dan percaya diri dalam memberikan layanan pendidikan yang ramah, adil, dan bermakna bagi siswa ABK. “Semoga apa yang telah dibagikan dapat kami terapkan secara konsisten dalam praktik pembelajaran sehari-hari,” harapnya.
Kami juga berharap kunjungan ini menjadi inspirasi bagi seluruh warga sekolah untuk terus belajar, berbenah, dan membuka hati bahwa setiap anak, dengan segala keunikan dan kebutuhannya.
“Kami juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik,” tegas Bu Wahyu_sapaan akrabnya.(mad/aba)




